Apa Itu Subnetting?

Subnetting adalah teknik membagi satu jaringan IP besar menjadi beberapa jaringan kecil (subnet) yang lebih terkelola. Teknik ini adalah skill wajib bagi setiap network engineer, mulai dari seorang teknisi ISP yang mengalokasikan IP ke pelanggan, hingga network architect yang merancang topologi data center.

Analogi: Subnetting = Membagi Gedung Menjadi Ruangan

Bayangkan sebuah gedung perkantoran yang memiliki satu lantai besar tanpa sekat:

  • Semua orang berada di satu ruangan yang sama
  • Suara dan aktivitas saling mengganggu
  • Sulit mengatur siapa boleh ke area mana
  • Jika AC rusak, seluruh gedung terdampak

Lalu, gedung tersebut disekat menjadi ruangan-ruangan berdasarkan departemen:

  • Ruang HRD, ruang Finance, ruang Engineering — masing-masing terpisah
  • Setiap ruangan punya pintunya sendiri (gateway)
  • Masalah di satu ruangan tidak mengganggu ruangan lain
  • Keamanan lebih mudah diatur per ruangan

Itulah yang dilakukan subnetting pada jaringan:

  • Gedung = blok IP address besar (misal: 192.168.0.0/16)
  • Ruangan = subnet-subnet kecil (misal: /24, /28, /30)
  • Pintu = gateway/router interface
  • Penghuni = host/perangkat di setiap subnet

Bagian 1: IPv4 Subnetting

Struktur IP Address (IPv4)

IPv4 address terdiri dari 32 bit, ditulis dalam format dotted decimal (4 kelompok angka, dipisahkan titik):

  Desimal:    192  .  168   .   1    .  100
  Biner  : 11000000.10101000.00000001.01100100
           └─8bit─┘ └─8bit─┘ └─8bit─┘ └─8bit─┘
           
  Total: 4 × 8 bit = 32 bit

Setiap kelompok 8 bit disebut oktet. Nilai setiap oktet berkisar antara 0 – 255 (karena 2⁸ = 256 kemungkinan).

Subnet Mask & CIDR Notation

Subnet mask menentukan bagian mana dari IP address yang merupakan Network (identitas jaringan) dan mana yang merupakan Host (identitas perangkat).

IP Address:    192.168.1.100
Subnet Mask:   255.255.255.0

Dalam biner:
  IP:     11000000.10101000.00000001.01100100
  Mask:   11111111.11111111.11111111.00000000
          └────── Network ─────────┘ └ Host ┘
          
  Bit "1" pada mask → Network portion
  Bit "0" pada mask → Host portion

CIDR (Classless Inter-Domain Routing) notation adalah cara singkat menulis subnet mask dengan menghitung jumlah bit "1":

255.255.255.0   = /24  (24 bit network, 8  bit host)
255.255.0.0     = /16  (16 bit network, 16 bit host)
255.255.255.128 = /25  (25 bit network, 7  bit host)
255.255.255.252 = /30  (30 bit network, 2  bit host)

Analogi: Subnet mask seperti kode area telepon. Kode area (021 untuk Jakarta) menentukan wilayah (network), sedangkan nomor setelahnya (12345678) menentukan pelanggan spesifik (host).


Cara Menghitung Subnet

Untuk setiap subnet, kita perlu mengetahui 5 informasi kunci:

Informasi Deskripsi
Network Address Alamat pertama di subnet — identitas jaringan (tidak bisa dipakai host)
Broadcast Address Alamat terakhir di subnet — untuk kirim pesan ke semua host (tidak bisa dipakai host)
First Usable Host Network Address + 1
Last Usable Host Broadcast Address - 1
Total Usable Hosts 2^(32 - prefix) - 2

Contoh Perhitungan: 192.168.10.0/26

Langkah 1: Tentukan jumlah bit host

Prefix: /26  →  Host bits = 32 - 26 = 6 bit

Langkah 2: Hitung jumlah host

Total alamat   = 2⁶ = 64 alamat
Usable hosts   = 64 - 2 = 62 host (kurangi network & broadcast)

Langkah 3: Tentukan subnet mask

/26 = 11111111.11111111.11111111.11000000
    = 255.255.255.192

Langkah 4: Tentukan network, broadcast, dan range host

Subnet size    = 64 (blok melompat per 64 di oktet ke-4)

Subnet 1:  192.168.10.0   – 192.168.10.63   (host: .1   – .62)
Subnet 2:  192.168.10.64  – 192.168.10.127  (host: .65  – .126)
Subnet 3:  192.168.10.128 – 192.168.10.191  (host: .129 – .190)
Subnet 4:  192.168.10.192 – 192.168.10.255  (host: .193 – .254)

Langkah 5: Rangkuman untuk subnet pertama (192.168.10.0/26)

Network Address   : 192.168.10.0
Subnet Mask       : 255.255.255.192 (/26)
First Usable Host : 192.168.10.1    ← biasanya jadi gateway
Last Usable Host  : 192.168.10.62
Broadcast Address : 192.168.10.63
Total Usable Hosts: 62

Tabel Referensi Subnet IPv4

Tabel ini wajib dihafalkan atau selalu dekat saat bekerja:

CIDR Subnet Mask Wildcard Total IP Usable Hosts Catatan
/32 255.255.255.255 0.0.0.0 1 1 Single host (loopback)
/31 255.255.255.254 0.0.0.1 2 2* Point-to-point link (RFC 3021)
/30 255.255.255.252 0.0.0.3 4 2 Point-to-point link (tradisional)
/29 255.255.255.248 0.0.0.7 8 6 Alokasi kecil
/28 255.255.255.240 0.0.0.15 16 14 Small office
/27 255.255.255.224 0.0.0.31 32 30 Departemen kecil
/26 255.255.255.192 0.0.0.63 64 62 Lantai / segmen
/25 255.255.255.128 0.0.0.127 128 126 Departemen besar
/24 255.255.255.0 0.0.0.255 256 254 Standar LAN
/23 255.255.254.0 0.0.1.255 512 510 2× /24
/22 255.255.252.0 0.0.3.255 1.024 1.022 4× /24
/21 255.255.248.0 0.0.7.255 2.048 2.046 8× /24
/20 255.255.240.0 0.0.15.255 4.096 4.094 16× /24
/16 255.255.0.0 0.0.255.255 65.536 65.534 Class B
/8 255.0.0.0 0.255.255.255 16.777.216 16.777.214 Class A

Tip: Cara cepat mengingat — jumlah host usable adalah 2^n - 2, di mana n = jumlah bit host (32 - prefix). Angka "-2" karena dikurangi network address dan broadcast address.

Catatan /31: Pada link point-to-point (router ↔ router), RFC 3021 mengizinkan penggunaan /31 tanpa network address dan broadcast. Ini menghemat 2 IP per link dibandingkan /30.


IP Address Classes (Kelas)

Meskipun classful routing sudah jarang digunakan, memahami kelas IP tetap penting:

Kelas Range Oktet 1 Default Mask Range Private (RFC 1918) Penggunaan
A 1 – 126 /8 10.0.0.0/8 Jaringan sangat besar
B 128 – 191 /16 172.16.0.0/12 Jaringan menengah-besar
C 192 – 223 /24 192.168.0.0/16 Jaringan kecil (LAN)
D 224 – 239 Multicast
E 240 – 255 Experimental / Reserved

Tip: Blok 127.0.0.0/8 adalah loopback dan tidak termasuk kelas manapun secara operasional. Alamat 127.0.0.1 digunakan untuk merujuk ke perangkat itu sendiri.


VLSM (Variable Length Subnet Masking)

Konsep

VLSM adalah teknik subnetting di mana setiap subnet boleh memiliki prefix length yang berbeda-beda sesuai kebutuhan. Tanpa VLSM (FLSM / Fixed Length), semua subnet harus berukuran sama, menyebabkan pemborosan IP yang luar biasa.

Iklan
Tanpa VLSM (FLSM — semua /24):
  Departemen A: 200 host → /24 (254 host)  ✅ Pas
  Departemen B: 50 host  → /24 (254 host)  ⚠️ 204 IP terbuang!
  Link Router:  2 host   → /24 (254 host)  ⚠️ 252 IP terbuang!

Dengan VLSM:
  Departemen A: 200 host → /24 (254 host)  ✅ Efisien
  Departemen B: 50 host  → /26 (62 host)   ✅ Efisien
  Link Router:  2 host   → /30 (2 host)    ✅ Sangat efisien

Aturan VLSM

  1. Urutkan kebutuhan dari terbesar ke terkecil. alokasikan subnet terbesar terlebih dahulu
  2. Pilih prefix terkecil yang cukup. jangan gunakan /24 untuk 5 host, gunakan /29 (6 usable)
  3. Pastikan subnet tidak overlap. setiap subnet harus dimulai dari batas blok yang benar

Contoh Kasus VLSM

Sebuah ISP mendapat alokasi 10.100.0.0/22 (1.022 usable hosts) dan perlu membagi ke:

Departemen / Fungsi Kebutuhan Host Prefix Optimal Total IP Usable
Pelanggan Perumahan 400 /23 512 510
Pelanggan Bisnis 100 /25 128 126
Server Farm 25 /27 32 30
Management / NOC 10 /28 16 14
Link Router 1 2 /30 4 2
Link Router 2 2 /30 4 2
Link Router 3 2 /30 4 2
Loopback Router 1 1 /32 1 1
Loopback Router 2 1 /32 1 1

Alokasi:

Blok induk: 10.100.0.0/22 (10.100.0.0 – 10.100.3.255)

1. Pelanggan Perumahan : 10.100.0.0/23   (10.100.0.1 – 10.100.1.254)
2. Pelanggan Bisnis    : 10.100.2.0/25   (10.100.2.1 – 10.100.2.126)
3. Server Farm         : 10.100.2.128/27 (10.100.2.129 – 10.100.2.158)
4. Management / NOC    : 10.100.2.160/28 (10.100.2.161 – 10.100.2.174)
5. Link Router 1       : 10.100.2.176/30 (10.100.2.177 – 10.100.2.178)
6. Link Router 2       : 10.100.2.180/30 (10.100.2.181 – 10.100.2.182)
7. Link Router 3       : 10.100.2.184/30 (10.100.2.185 – 10.100.2.186)
8. Loopback Router 1   : 10.100.2.188/32
9. Loopback Router 2   : 10.100.2.189/32

Sisa (cadangan)        : 10.100.2.190 – 10.100.3.255

Tip: Selalu sisakan ruang cadangan untuk pertumbuhan. Jangan alokasikan blok IP sampai habis 100% — minimal sisakan 20–30% untuk ekspansi masa depan.


Contoh Penerapan IPv4 Subnetting

1. Penerapan Umum: Kantor Kecil (SOHO)

Skenario: Kantor dengan 1 ISP, 1 router MikroTik, 3 departemen (masing-masing VLAN).

Blok IP Private: 192.168.0.0/22 (1.022 host)

VLAN 10 (Engineering)  : 192.168.0.0/24   → 254 host
VLAN 20 (Marketing)    : 192.168.1.0/24   → 254 host
VLAN 30 (Management)   : 192.168.2.0/25   → 126 host
Management Router      : 192.168.2.128/28 → 14 host
Link WAN               : DHCP dari ISP

MikroTik:

# Buat VLAN
/interface vlan
add interface=bridge-local name=vlan10-engineering vlan-id=10
add interface=bridge-local name=vlan20-marketing vlan-id=20
add interface=bridge-local name=vlan30-management vlan-id=30

# Assign IP ke setiap VLAN (gateway)
/ip address
add address=192.168.0.1/24 interface=vlan10-engineering comment="GW VLAN 10"
add address=192.168.1.1/24 interface=vlan20-marketing comment="GW VLAN 20"
add address=192.168.2.1/25 interface=vlan30-management comment="GW VLAN 30"

# DHCP Server per VLAN
/ip pool
add name=pool-vlan10 ranges=192.168.0.10-192.168.0.250
add name=pool-vlan20 ranges=192.168.1.10-192.168.1.250
add name=pool-vlan30 ranges=192.168.2.10-192.168.2.120

/ip dhcp-server network
add address=192.168.0.0/24 gateway=192.168.0.1 dns-server=8.8.8.8,1.1.1.1
add address=192.168.1.0/24 gateway=192.168.1.1 dns-server=8.8.8.8,1.1.1.1
add address=192.168.2.0/25 gateway=192.168.2.1 dns-server=8.8.8.8,1.1.1.1

/ip dhcp-server
add name=dhcp-vlan10 interface=vlan10-engineering address-pool=pool-vlan10
add name=dhcp-vlan20 interface=vlan20-marketing address-pool=pool-vlan20
add name=dhcp-vlan30 interface=vlan30-management address-pool=pool-vlan30

Juniper:

# Interface VLAN (IRB — Integrated Routing and Bridging)
set interfaces irb unit 10 family inet address 192.168.0.1/24
set interfaces irb unit 20 family inet address 192.168.1.1/24
set interfaces irb unit 30 family inet address 192.168.2.1/25

# VLAN definition
set vlans vlan-engineering vlan-id 10 l3-interface irb.10
set vlans vlan-marketing vlan-id 20 l3-interface irb.20
set vlans vlan-management vlan-id 30 l3-interface irb.30

# DHCP Server
set system services dhcp-local-server group vlan10 interface irb.10
set access address-assignment pool pool-vlan10 family inet \
    network 192.168.0.0/24
set access address-assignment pool pool-vlan10 family inet \
    range range1 low 192.168.0.10 high 192.168.0.250
set access address-assignment pool pool-vlan10 family inet \
    dhcp-attributes router 192.168.0.1
set access address-assignment pool pool-vlan10 family inet \
    dhcp-attributes name-server 8.8.8.8

2. Penerapan Menengah: ISP dengan Alokasi ke Pelanggan

Skenario: ISP mendapat blok /22 dari APNIC dan perlu mengalokasikan IP publik ke pelanggan dedicated.

Blok Publik: 103.150.100.0/22 (1.022 usable)

Pelanggan Corporate A  : 103.150.100.0/28   → 14 IP publik (web server)
Pelanggan Corporate B  : 103.150.100.16/29  → 6 IP publik (mail server)
Pelanggan Hosting C    : 103.150.100.24/28  → 14 IP publik
Link ke IXP            : 103.150.100.40/30  → 2 IP (point-to-point)
Link ke Upstream       : 103.150.100.44/30  → 2 IP (point-to-point)
Loopback Router Core   : 103.150.100.48/32  → 1 IP (router-id BGP)
NAT Pool Pelanggan     : 103.150.100.64/26  → 62 IP (untuk NAT/PAT)
Cadangan               : 103.150.101.0/24 – 103.150.103.255

MikroTik — Assign IP Publik ke Pelanggan Corporate:

# Interface ke pelanggan Corporate A
/ip address
add address=103.150.100.1/28 interface=ether5 \
    comment="GW Pelanggan Corporate A"

# Route statik untuk blok pelanggan (jika routing statis)
/ip route
add dst-address=103.150.100.0/28 gateway=ether5 \
    comment="Route to Corp A"

Juniper — BGP Advertisement Blok Pelanggan:

# Advertise blok pelanggan via BGP
set policy-options prefix-list CUSTOMER-PREFIXES 103.150.100.0/28
set policy-options prefix-list CUSTOMER-PREFIXES 103.150.100.16/29
set policy-options prefix-list CUSTOMER-PREFIXES 103.150.100.24/28

set policy-options policy-statement ADVERTISE-CUSTOMERS term 1 \
    from prefix-list CUSTOMER-PREFIXES
set policy-options policy-statement ADVERTISE-CUSTOMERS term 1 \
    then accept

set protocols bgp group UPSTREAM neighbor 203.0.113.1 \
    export ADVERTISE-CUSTOMERS

3. Penerapan Khusus: Link Point-to-Point (/30 vs /31)

Pada koneksi antar-router, setiap link hanya membutuhkan 2 IP. Secara tradisional digunakan /30, namun /31 (RFC 3021) semakin populer karena lebih hemat.

Perbandingan /30 vs /31:

/30 (4 IP, 2 usable):
  Network   : 10.0.0.0     ← tidak bisa dipakai
  Router A  : 10.0.0.1     ✅
  Router B  : 10.0.0.2     ✅
  Broadcast : 10.0.0.3     ← tidak bisa dipakai
  → 2 IP terbuang per link

/31 (2 IP, 2 usable):
  Router A  : 10.0.0.0     ✅
  Router B  : 10.0.0.1     ✅
  → 0 IP terbuang!

Jika ISP punya 100 link point-to-point:
  /30 → butuh 400 IP (200 terbuang)
  /31 → butuh 200 IP (0 terbuang) → hemat 200 IP!

MikroTik (/31 link):

/ip address
add address=10.0.0.0/31 interface=ether2 comment="Link to Router-B"

# Di Router B:
# /ip address
# add address=10.0.0.1/31 interface=ether2 comment="Link to Router-A"

Juniper (/31 link):

set interfaces xe-0/0/0 unit 0 family inet address 10.0.0.0/31

# Di Router B:
# set interfaces xe-0/0/0 unit 0 family inet address 10.0.0.1/31

4. Penerapan Khusus: Loopback (/32)

Alamat /32 digunakan untuk loopback interface pada router — satu IP yang selalu aktif selama router menyala, tidak terikat interface fisik. Digunakan sebagai:

  • Router ID untuk OSPF dan BGP
  • Management IP yang stabil
  • Source IP untuk BFD, SNMP trap, syslog

MikroTik:

/interface bridge
add name=loopback

/ip address
add address=10.255.0.1/32 interface=loopback comment="Router ID / Loopback"

/routing ospf instance
set default router-id=10.255.0.1

# Pastikan loopback di-advertise ke OSPF
/routing ospf interface-template
add area=backbone interfaces=loopback

Juniper:

set interfaces lo0 unit 0 family inet address 10.255.0.1/32

set routing-options router-id 10.255.0.1

set protocols ospf area 0.0.0.0 interface lo0.0 passive

Bagian 2: IPv6 Subnetting

Struktur Alamat IPv6

IPv6 menggunakan alamat 128-bit, ditulis dalam 8 grup heksadesimal yang dipisahkan oleh titik dua (:):

Alamat Lengkap:
  2001:0db8:0000:0000:0000:0000:0000:0001

Alamat Terkompresi (menghilangkan leading zero + :: untuk grup nol berturut):
  2001:db8::1

Perbandingan IPv4 vs IPv6:
  IPv4:   32 bit   →  ~4.3 miliar alamat
  IPv6:  128 bit   →  ~340 undecillion alamat (3.4 × 10³⁸)

Analogi: Jika IPv4 adalah nomor telepon rumah (terbatas), IPv6 adalah memberikan nomor telepon unik kepada setiap butir pasir di bumi — dan masih sisa.

Jenis-Jenis Alamat IPv6

Jenis Prefix Contoh Fungsi
GUA (Global Unicast) 2000::/3 2001:db8:1::1 Alamat publik routable (seperti IP publik IPv4)
LLA (Link-Local) fe80::/10 fe80::1 Komunikasi lokal satu segmen, auto-generated
ULA (Unique Local) fc00::/7 fd00::1 Alamat private (seperti 10.x, 192.168.x di IPv4)
Multicast ff00::/8 ff02::1 Mengirim ke banyak host sekaligus
Loopback ::1/128 ::1 Sama seperti 127.0.0.1 di IPv4
Unspecified ::/128 :: Belum ada alamat (seperti 0.0.0.0 di IPv4)

Subnetting IPv6: Konsep Prefix

Pada IPv6, kita tidak menggunakan istilah "subnet mask" — melainkan prefix length. Konsepnya sama: berapa bit yang menandakan network.

Struktur umum alokasi IPv6:

  ┌──────────────────────────────────────────────────────────┐
  │            128-bit IPv6 Address                          │
  ├──────── 48 bit  ────────┬── 16 bit ──┬──── 64 bit ───────┤
  │    Global Routing       │  Subnet    │   Interface ID    │
  │    Prefix               │    ID      │   (host part)     │
  │   (dari ISP/RIR)        │(kita atur) │   (auto EUI-64    │
  │                         │            │   atau manual)    │
  └─────────────────────────┴────────────┴───────────────────┘
  
  Contoh: ISP memberi blok 2001:db8:abcd::/48
  
  Subnet ID (16 bit) → kita bisa buat 2¹⁶ = 65.536 subnet /64!

Aturan Emas IPv6: /64 untuk End-User

Berbeda dengan IPv4 yang sangat pelit dengan alokasi, di IPv6:

  • Setiap LAN/VLAN mendapatkan minimal /64
  • /64 adalah standar minimum untuk subnet end-user
  • Jangan pernah gunakan prefix lebih besar dari /64 untuk host network (SLAAC tidak akan bekerja)
  • Link point-to-point bisa menggunakan /127 (RFC 6164) atau /64

Tip: Di IPv6, kamu tidak perlu khawatir "kehabisan IP". Satu subnet /64 saja sudah menyediakan 18.4 quintillion alamat (2⁶⁴ = 18.446.744.073.709.551.616). Fokusnya bergeser dari menghemat IP menjadi mengelola prefix hierarchy dengan baik.

Contoh Pembagian IPv6

ISP mendapat alokasi /32 dari RIR (Regional Internet Registry):

Blok dari RIR: 2001:db8::/32

Pembagian ke pelanggan:
  Pelanggan Enterprise A  : 2001:db8:0001::/48  → 65.536 subnet /64
  Pelanggan Enterprise B  : 2001:db8:0002::/48  → 65.536 subnet /64
  Pelanggan Residential   : 2001:db8:0100::/48  → 65.536 subnet /64
  Infrastruktur ISP       : 2001:db8:ff00::/48  → 65.536 subnet /64

Di dalam blok pelanggan Enterprise A (2001:db8:0001::/48):
  VLAN Office          : 2001:db8:0001:0001::/64
  VLAN Server          : 2001:db8:0001:0002::/64
  VLAN Guest WiFi      : 2001:db8:0001:0003::/64
  Link ke Router ISP   : 2001:db8:0001:ffff::/127

Konfigurasi IPv6

MikroTik RouterOS

# =============================================
# Assign IPv6 Address ke Interface
# =============================================
/ipv6 address
add address=2001:db8:1::1/64 interface=vlan10-engineering \
    comment="GW IPv6 VLAN 10"
add address=2001:db8:1:1::1/64 interface=vlan20-marketing \
    comment="GW IPv6 VLAN 20"

# Link point-to-point ke upstream
add address=2001:db8:ffff::0/127 interface=ether1-wan \
    comment="Link to Upstream"

# =============================================
# IPv6 DHCP Server (DHCPv6 — untuk Prefix Delegation)
# =============================================
/ipv6 pool
add name=pool-pd prefix=2001:db8:1::/48 prefix-length=64

/ipv6 dhcp-server
add name=dhcpv6-vlan10 interface=vlan10-engineering address-pool=pool-pd

# =============================================
# Enable IPv6 ND (Neighbor Discovery) & SLAAC
# =============================================
/ipv6 nd
set [find interface=vlan10-engineering] advertise-dns=yes \
    ra-interval=30s-60s

# =============================================
# Verifikasi
# =============================================
# /ipv6 address print
# /ipv6 route print
# /ping 2001:db8:1::2 count=4

Juniper JunOS

# =============================================
# Assign IPv6 Address
# =============================================
set interfaces irb unit 10 family inet6 address 2001:db8:1::1/64
set interfaces irb unit 20 family inet6 address 2001:db8:1:1::1/64

# Link point-to-point
set interfaces xe-0/0/0 unit 0 family inet6 address 2001:db8:ffff::/127

# =============================================
# Router Advertisement (SLAAC)
# =============================================
set protocols router-advertisement interface irb.10 prefix 2001:db8:1::/64

# =============================================
# OSPFv3 untuk IPv6 Routing
# =============================================
set protocols ospf3 area 0.0.0.0 interface irb.10
set protocols ospf3 area 0.0.0.0 interface irb.20
set protocols ospf3 area 0.0.0.0 interface xe-0/0/0.0

# =============================================
# Verifikasi
# =============================================
# show interfaces irb.10 | match inet6
# show ipv6 neighbors
# show route table inet6.0
# ping 2001:db8:1::2 count 4

Troubleshooting Subnetting

Masalah Umum

Masalah Penyebab Solusi
Host tidak bisa ping gateway Subnet mask salah (host & gateway di subnet berbeda) Verifikasi prefix length di kedua sisi
DHCP berhasil tapi tidak bisa browse Gateway atau DNS salah di DHCP pool Cek DHCP network settings
Dua VLAN bisa saling akses padahal seharusnya tidak Subnet overlap (misal /24 dan /23 overlap) Gambar ulang peta alokasi, pastikan tidak ada tumpang tindih
Routing antar-subnet tidak bekerja Lupa membuat route atau routing protocol tidak advertise subnet Cek routing table, pastikan semua subnet ter-advertise
IPv6 SLAAC tidak memberikan IP Prefix di interface lebih besar dari /64 Pastikan interface prefix adalah /64 untuk SLAAC

Perintah Verifikasi

MikroTik:

# Cek IP address dan subnet di setiap interface
/ip address print detail

# Cek routing table — pastikan semua subnet ada
/ip route print where active=yes

# Test apakah subnet bisa dijangkau
/ping 192.168.1.1 src-address=192.168.2.1

# Cek DHCP lease
/ip dhcp-server lease print

Juniper:

# Cek IP assignment
show interfaces terse

# Detail interface tertentu
show interfaces irb.10 | match inet

# Cek routing table
show route

# Test konektivitas
ping 192.168.1.1 source 192.168.2.1

# Cek ARP/Neighbor table
show arp
show ipv6 neighbors

Best Practice Subnetting

  1. Rencanakan sebelum deploy Selalu buat dokumen IP Address Plan (spreadsheet / diagram) sebelum mengkonfigurasi perangkat. Jangan alokasikan IP secara ad hoc.

  2. Gunakan VLSM — jangan boros IP Alokasikan prefix sesuai kebutuhan. Jangan gunakan /24 untuk link point-to-point yang hanya butuh 2 IP.

  3. Sisakan ruang untuk pertumbuhan Jangan alokasikan blok IP sampai habis 100%. Sisakan minimal 20–30% untuk ekspansi.

  4. Dokumentasikan setiap alokasi Catat siapa menggunakan subnet apa, kapan dialokasikan, dan untuk apa. Gunakan IPAM (IP Address Management) tools jika memungkinkan.

  5. Konsisten dengan skema penomoran Gunakan konvensi yang mudah dibaca:

    • Gateway selalu .1 di setiap subnet
    • DHCP pool mulai dari .10 (sisakan .2–.9 untuk perangkat statis)
    • Printer/server di range .200–.250
  6. Gunakan /31 untuk point-to-point link Ini standar modern yang menghemat IP. hampir semua vendor sudah mendukung RFC 3021.

  7. IPv6: Selalu gunakan /64 untuk LAN Jangan pelit dengan IPv6. Satu /64 per VLAN/LAN adalah standar yang benar. Prefix lebih besar dari /64 akan mematikan fitur SLAAC.

  8. Pisahkan blok berdasarkan fungsi

    Contoh skema:
    10.10.0.0/16  → Pelanggan residential
    10.20.0.0/16  → Pelanggan bisnis
    10.30.0.0/16  → Management & infrastruktur
    10.255.0.0/24 → Loopback router
    

Ringkasan

Topik IPv4 IPv6
Panjang Alamat 32 bit (4 oktet desimal) 128 bit (8 grup heksadesimal)
Notasi 192.168.1.0/24 2001:db8::/32
Subnet Mask Dotted decimal (255.255.255.0) Prefix length only (/64)
Standar LAN /24 (254 host) /64 (18.4 × 10¹⁸ host)
Link P2P /30 atau /31 /127 atau /64
Loopback /32 /128
Auto-config DHCP SLAAC + DHCPv6
Teknik Efisiensi VLSM Prefix Delegation

Tip: Subnetting mungkin terasa membingungkan di awal, tapi setelah berlatih beberapa kali, kamu akan bisa menghitung subnet di luar kepala. Kuncinya adalah memahami konsep biner dan berlatih menghitung, bukan menghafal tabel. Gunakan tools Subnet Calculator kami di halaman Tools untuk membantu verifikasi perhitunganmu.